Bahkan Alturisme Manusia didasarkan pada Sifat
Egosentris
Even human
altruism is based on self-centred - IU
Apa itu Alturisme dan Egosentris ?
Alturisme merupakan perhatian terhadap orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.
Sedangkan Egosentris adalah sifat seseorang yang menjadikan diri sendiri
sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan) atau dengan kata lain berpusat pada
diri sendiri.
Alturisme dan Egosentris merupakan kedua
kata yang memiliki arti yang sangat bertolak belakang.
Lalu mengapa kalimat diatas mengatakan
jika "Altruisme didasarkan dari sifat Egosentris" ?
Kadang kita akan sangat menderita dan
tersiksa melihat seseorang yang kita kasihi menjadi terpuruk dan
menyendiri.
Kata-kata dukungan dan pelipur lara akan
kita berikan dengan cepat karena kita tidak bisa hanya duduk diam,
melihat dan tidak melakukan apa-apa terhadap orang yang kita kasihi
itu.
Setelah dipikirkan lagi, tindakan yang
telah dilakukan adalah sepenuhnya bukan untuk orang itu.
Sebagian besar orang masih tidak bisa
untuk tidak ikut campur ketika melihat orang-orang yang dikasihinya mengalami
kesusahan.
Pada akhirnya, tindakan-tindakan itu
tidaklah sepenuhnya dilakukan berdasar pada pertimbangan atau sebagai tindakan
penghiburan bagi orang tersebut, melainkan keinginan kuat pribadi (diri
sendiri) untuk melihat orang itu menjalani kehidupan yang damai.
Itu berarti, semua yang kita lakukan
kepada orang yang kita kasihi bukan sepenuhnya untuk orang itu melainkan untuk
diri kita sendiri.
Kita akan bernafas lega ketika melihat dia
tidak terpuruk lagi, kita akan merasa nyaman ketika dia tidak merasakan
kesedihan lagi dan kita akan merasa bahagia ketika dia sudah mulai terbuka dan
tidak menyendiri lagi.
Itulah alasan kenapa sikap alturisme
didasarkan dari sifat egosentris.
Contoh lain dari kalimat diatas adalah
seorang 'penggemar' atau biasa disebut 'fans'.
Selama lebih dari satu tahun, aku hidup
sebagai penggemar.
Yang awalnya hanya suka ketika melihat
foto/video sang idola hingga menunjukkan loyalitasku sebagai penggemar dengan
mengirimkan rice wreath, coffe truck/food truck di lokasi
syuting mereka, mengikuti project ulang tahun mereka,
membeli album dan bahkan berkeinginan untuk datang ke konser ataupun fanmeeting mereka.
Ketika seseorang hanya melihatku sekilas,
mereka akan menganggap jika aku berbuat terlalu banyak untuk idolaku dan itu
sangat memperlihatkan sikap alturisme yang ada dalam diriku. Namun, yang aku
rasakan sangatlah berbeda. Semua yang kulakukan itu hanya dan untuk diriku sendiri.
Aku akan merasa puas setelah tahu jika
idolaku akan menerima semua yang kukirimkan untuknya.
Aku akan senang jika nama akun instagramku
akan muncul di banner rice wreath ataupun coffe truck.
Aku akan merasa nyaman ketika mendengar
suara lembut di album barunya ataupun saat aku akan datang ke konsernya.
Mungkin itu belum terlalu terlihat sifat
egosentrisku. Tapi setelah aku mengatakan alasan lain, jika orang akan
mulai berpikir jika semua itu hanya untuk diriku sendiri.
Saat aku mengirim rice
wreath/coffe truck, nama akun Instagramku akan tercantum dalam banner dan
itu akan di notice oleh sang idola yang pastinya akan di
unggah di akun instagram pribadinya, secara otomatis akun Instagramku akan
mengalami kenaikan followers karena banyak orang yang melihat
nama akunku.
Lalu untuk album dan konser. Ketika aku
mengunggah album ataupun foto di konsernya, aku akan mendapat like yang
banyak dan membuat insight di instagramku naik -,-
Setelah pernyataan diatas, sikap loyalitas
yang dilihat banyak orang berubah menjadi sikap keserakahan yang ada dalam
diriku.
Yaaa ini semua tergantung pandangan
masing-masing orang.
Itu bukan hanya tentang diriku. Aku yakin
para fangirl/fanboy yang ada diluar sana merasakan hal yang
sama bahkan ada yang memanfaatkan semua ini hanya untuk uang.
Banyak yang dikorbankan ketika kita
terlalu mencintai idola kita.
Hanya saja semua yang kita lakukan untuk
idola kita adalah untuk diri kita sendiri jadi semuanya tidak berasa sia-sia.
Karena kita dengan senang hati memberi walaupun kadang balasannya hanya senyum
bahagia yang terpancar di wajah idola kita.
Saat menulis ini, aku tidak menyangka jika
akan membeberkan cerita tentang hidup fangirl ku. Aku hanya
mencoba menulis tentang kerancuan kalimat diatas dan akhirnya terpecahkan
dengan kehidupan fangirl yang kujalani selama lebih dari satu
tahun.
Aku memberikan banyak cinta untuk idolaku
dan itu selalu membuatku merasa lebih baik dan bukannya kesusahan.
Aku akhirnya bisa menyimpulkan jika
Alturisme dan Egosentris adalah kedua kata yang sangat bertolak belakang satu
sama lain, tapi ketika dia menjadi satu kalimat seperti yang ada di judul
diatas, itu bisa menjadi sebuah kesatuan yang ternyata dialami oleh banyak
orang. Kita berbuat baik kepada orang lain itu awalnya bukan untuk orang itu
melainkan untuk diri kita sendiri agar supaya diri kita merasa nyaman. Semua
yang kita lakukan pasti memiliki alasannya tersendiri entah alasan itu
terekspos ataupun alasan terselubung yang kita miliki untuk diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar